Sungguh sobat, pada postingan kali ini penulis benar-benar berharap ada pelajaran yang dapat kita ambil. Kisah ini bermula pada hari ini (Minggu, 18 Maret 2012).
Pagi ini matahari sangat bersemangat menyinari langit Palembang. Penulis pun tak mau kalah semangat dalam melakukan aktivitas di Minggu pagi ini. Ada yang spesial sobat, beberapa minggu ini penulis ikut serta dalam pelaksanaan PKMM Bill Gates Kecil dari Kampungku setiap pagi dari pukul 10.00-12.00. Pukul 9.30 teman-teman anggota tim sudah datang dan bersiap-siap untuk memulai acara. Hingga akhirnya perasaan kami sedikit tergugah ketika menerima sms dari salah satu anggota tim yang saat itu tidak hadir, isi teks smsnya adalah sbb :
"Teman-teman mohon doanya untuk keselamatan adik kami deni hidayat. Deni dalam keadaan kritis."
Serentak keadaan berubah agak panik. Kami saling bertanya-tanya, "ada apa gerangan dengan adik teman kami (Risma Meilinda)?". Pembahasan pun berlanjut ke adiknya risma, deni hidayat dan "keistimewaannya". Sobat...., penulis belum pernah bertatap muka dengan deni, tapi ketika mendengar cerita dari teman-teman entah mengapa penulis merasa sudah merasa kenal bahkan ada rasa "sayang" ke adik temanku tersebut. Dalam hati penulis berdoa sambil berucap,"Deni, cepet sembuh ya...Ayuk (kakak perempuan :red) juga pengen ketemu sama deni...". Setelah pembahasan tersebut, penulis dan teman-teman melanjutkan aktivitas dengan hati sedikit "galau", namun acara tetap berjalan lancar.
Kira-kira pukul 14.15 wib, penulis dan teman-teman mengunjungi rumah sakit PUSRI, tempat deni dirawat. Karena bukan waktu kunjungan, penulis dkk tidak diizinkan masuk. Akhirnya, teman kami Risma yang keluar dan menyambut buah tangan yang kami bawa. Baru keluar, kami sudah meminta Risma bercerita sambil berdiri, hasilnya baru beberapa kata yang terucap, Risma sudah menitikkan air mata. Kami pun hanya bisa berdiri mengelilingi Risma. Satu-dua kalimat penghibur terucap, tapi kami yakin tidak akan banyak membantu. Dari ceritanya kami mengetahui, ternyata Deni sakit jantung mendadak. Tidak ada gejala maupun pertanda. Bisa kami bayangkan "keterkejutan" yang dialami keluarga Risma. Setelah berusaha menghibur dan memastikan Risma minum teh manis sebagai asupan glukosa, kami pun pamit pulang.
Di rumah, sesuai janji pada Risma, penulis mendoakan agar Deni bisa melawati masa kritis. Usai berdoa dan bersiap sholat magrib, penulis membaca sms masuk di hp penulis, pengirimnya adalah Risma, dan isinya sungguh membuat penulis terkejut...
Kira-kira pukul 14.15 wib, penulis dan teman-teman mengunjungi rumah sakit PUSRI, tempat deni dirawat. Karena bukan waktu kunjungan, penulis dkk tidak diizinkan masuk. Akhirnya, teman kami Risma yang keluar dan menyambut buah tangan yang kami bawa. Baru keluar, kami sudah meminta Risma bercerita sambil berdiri, hasilnya baru beberapa kata yang terucap, Risma sudah menitikkan air mata. Kami pun hanya bisa berdiri mengelilingi Risma. Satu-dua kalimat penghibur terucap, tapi kami yakin tidak akan banyak membantu. Dari ceritanya kami mengetahui, ternyata Deni sakit jantung mendadak. Tidak ada gejala maupun pertanda. Bisa kami bayangkan "keterkejutan" yang dialami keluarga Risma. Setelah berusaha menghibur dan memastikan Risma minum teh manis sebagai asupan glukosa, kami pun pamit pulang.
Di rumah, sesuai janji pada Risma, penulis mendoakan agar Deni bisa melawati masa kritis. Usai berdoa dan bersiap sholat magrib, penulis membaca sms masuk di hp penulis, pengirimnya adalah Risma, dan isinya sungguh membuat penulis terkejut...