Page

March 19, 2012

Belajar dari Seorang "Deni"

Sungguh sobat, pada postingan kali ini penulis benar-benar berharap ada pelajaran yang dapat kita ambil. Kisah ini bermula pada hari ini (Minggu, 18 Maret 2012).

Pagi ini matahari sangat bersemangat menyinari langit Palembang. Penulis pun tak mau kalah semangat dalam melakukan aktivitas di Minggu pagi ini. Ada yang spesial sobat, beberapa minggu ini penulis ikut serta dalam pelaksanaan PKMM Bill Gates Kecil dari Kampungku setiap pagi dari pukul 10.00-12.00. Pukul 9.30 teman-teman anggota tim sudah datang dan bersiap-siap untuk memulai acara. Hingga akhirnya perasaan kami sedikit tergugah ketika menerima sms dari salah satu anggota tim yang saat itu tidak hadir, isi teks smsnya adalah sbb :
"Teman-teman mohon doanya untuk keselamatan adik kami deni hidayat. Deni dalam keadaan kritis."
Serentak keadaan berubah agak panik. Kami saling bertanya-tanya, "ada apa gerangan dengan adik teman kami (Risma Meilinda)?". Pembahasan pun berlanjut ke adiknya risma, deni hidayat dan "keistimewaannya". Sobat...., penulis belum pernah bertatap muka dengan deni, tapi ketika mendengar cerita dari teman-teman entah mengapa penulis merasa sudah merasa kenal bahkan ada rasa "sayang" ke adik temanku tersebut. Dalam hati penulis berdoa sambil berucap,"Deni, cepet sembuh ya...Ayuk (kakak perempuan :red) juga pengen ketemu  sama deni...". Setelah pembahasan tersebut, penulis dan teman-teman melanjutkan aktivitas dengan hati sedikit "galau", namun acara tetap berjalan lancar.


Kira-kira pukul 14.15 wib, penulis dan teman-teman mengunjungi rumah sakit PUSRI, tempat deni dirawat. Karena bukan waktu kunjungan, penulis dkk tidak diizinkan masuk. Akhirnya, teman kami Risma yang keluar dan menyambut buah tangan yang kami bawa. Baru keluar, kami sudah meminta Risma bercerita sambil berdiri, hasilnya baru beberapa kata yang terucap, Risma sudah menitikkan air mata. Kami pun hanya bisa berdiri mengelilingi Risma. Satu-dua kalimat penghibur terucap, tapi kami yakin tidak akan banyak membantu. Dari ceritanya kami mengetahui, ternyata Deni sakit jantung mendadak. Tidak ada gejala maupun pertanda. Bisa kami bayangkan "keterkejutan" yang dialami keluarga Risma. Setelah berusaha menghibur dan memastikan Risma  minum teh manis sebagai asupan glukosa, kami pun pamit pulang.


Di rumah, sesuai janji pada Risma, penulis mendoakan agar Deni bisa melawati masa kritis. Usai berdoa dan bersiap sholat magrib, penulis membaca sms masuk di hp penulis, pengirimnya adalah Risma, dan isinya sungguh membuat penulis terkejut...
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Telah meninggal adik kami deni hidayat. Mohon doanya."
Deni benar-benar telah melewati masa kritis. Allah lebih memilih Deni bersama-Nya di sana. Innalillahi, penulis membalas pesan Risma dengan kata-kata penghibur, dan sekali lagi sangat yakin, bahwa kata-kata itu tidak banyak membantu mengurangi kesedihannya.


Sobaat.., Deni tidak pergi begitu saja.  Begitu banyak pelajaran yang didapatkan oleh penulis (pribadi), dan berharap teman-teman juga bisa mendapatkannya. Melalui posting ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Deni..
"Terima kasih Deni, 
Dirimu yang belum sempat mengenyam pendidikan formal mengajari hal yang tidak pernah aku dapatkan selama menimba ilmu hingga duduk di bangku kuliah.....Tak pernah aku berpikir betapa kompleks kinerja sistem tubuhku, tak pernah ku merenung apa yang terjadi bila jantungku berhenti berdetak selama 1 detik, tak pernah ku mengkhayal paru-paruku "merajuk" dan enggan menyimpan oksigen di dalam alveolus-alveolus halusnya....,
yang selama ini ku lakukan adalah terus memporsir kerja tubuhku. Aku tidur semauku, berjalan sesuka hatiku, aku melompat, berlari bahkan terkadang tak sengaja menyakiti tubuhku bahkan organ vital tubuhku. Entah berapa lama jantungku bertahan, entah berapa lama semuanya tetap bekerja sinergis menyokong kehidupanku. Tapi engkau menyadarkanku Deni, bahwa tubuhku bukan milikku, semuanya milik Sang Pencipta yang sekarang berada di dekatmu. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih Deni...
Tak bisa kubayangkan betapa banyak pelajaran yang kau berikan pada orang di sekitarmu saat engkau masih disini, hingga kau pergi pun masih kudapatkan pelajaran darimu, padahal aku orang yang sama sekali tak pernah bertemu denganmu...
 Doaku untuk mu Deni.. Allohumma firlahu warhamhu waafihi wafuanhu..."


Maret 2012


@nabarianfany

2 comments:

  1. Ya .. Seperti itulah Fan.. Aku juga pernah kehilangan seorang adek angkat karena kanker.. Padahal anaknya baik bener dan lagi bangga2nya bisa ngajarin kk kelasnya Pelajaran Bahasa Inggris di SD almarhumah..
    Kanker yg beberapa tahun lalu telah merenggut salah satu tangannya , setelah dikemo ternyata telah menjalar ke organ2 lain tanpa diduga..

    Tubuh manusia benar2 kompleks

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener ndar..qt cm bs berucap innalillahi atas kepergian mereka, dan tidak kufur atas nikmat Allah kpd kita yng masih diberi kesempatan...

      makasih commentnya andar...

      Delete