Post ini saya dedikasikan untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN), sebagai ucapan terima kasih yang tertunda, sekaligus untuk mengikuti kontes blog #HarapanUntukPLN. Bismillahirrahmanirrahiim...

Mari kita berandai-andai...
Mari kita berandai-andai...
Jika saya menulis post ini di akhir tahun lalu, tentulah akan tertulis semua keluhan, hinaan dan cacian kepada PLN. Bagaimana tidak?Bukankah itu sudah tertanam di benak rakyat Indonesia?Rekan-rekan pembaca pasti juga mengalami, bagaimana kondisi ketika di perumahan rekan-rekan terjadi pemadaman listrik?
Oh yaaa, saya bisa mendengar gerutuan itu...masih terngiang..
"....Yaaah, mati lampu...sial, film lagi seruu.....""....G*laaa!padam listrik muluu, gue ada tugass niiih!. Dasar Perusahaan LILIN Negara!!....*"....Ya ampuun, mati lampuu, target konsumen belum dipenuhi, bangkrut deh karena PLN!, Mana liliiin??..*
Benar sekali para pembaca. Sedari dulu itulah yang tertanam di benak bangsa kita. Miris, hmmm...kalau ditelusuri, bangsa kita ternyata egois ya?Loh kok saya bisa bicara seperti ini?Jangan-jangan saya pegawai PLN?atau anak, cucu, atau cicit direktur PLN?Hahaa,kalau pembaca curiga seperti itu, sekali lagi pembaca membuktikan kelemahan sifat bangsa kita. Saya tegaskan kepada pembaca yang budiman, kalau di keluarga saya tidak ada satu pun yang merupakan pegawai PLN, kalau benar-benar diperiksa, mungkin tujuh turunan juga belum ada yang pernah menjadi pegawai PLN (beneran mau dicek?tolong yah..hehe).
Hmmm, jadi kenapa saya bicara seperti itu?Kenapa bangsa kita yang egois?Kan PLN yang selalu melakukan pemadaman listrik?Kan yang salah PLN?Kan itu korupsi namanya, PLN bobrok, rusak, cacat moral!Eh..sabar..sabar..baca dulu alasan saya bicara seperti itu, semuanya bermula pada awal tahun 2012, tepatnya ketika saya memulai kegiatan Bill Gates Kecil dari Kampungku (BGK). Intinya BGK adalah kegiatan mahasiswa yang mengajarkan Pendidikan IT untuk anak usia dini di suatu kampung. Pembaca bisa melihat polanya kan?Listrik dan IT...Benar sekali!Sangat berhubungan bukan?Oke saya mulai kisahnya ya..
Tak ada yang lebih menakutkan bagi saya saat itu, selain pemadaman listrik tiba-tiba dari PLN. Setiap akan memulai aktivitas, saya selalu memasukkan doa pamungkas dalam setiap tahajud yang saya lakukan. "Ya Allah, semoga besok tidak terjadi pemadaman listrik...Aku mohon padaMu Ya Allah..aamiin". Doa itu meluncur begitu saja tanpa direncanakan ataupun dipikirkan. Benar, memang benar..Waktu itu saya masih "tidak bersahabat" dengan yang namanya PLN, akibatnya muncul rasa ketidakpercayaan yang luar biasa memuncak. Kenapa saya begitu takut akan pemadaman listrik?ada apa gerangan?Jawabannya sangat sederhana, saya tidak ingin mengecewakan peserta pelatihan yang notabene masih mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar. Bayangkan saja, saking semangatnya para peserta itu untuk mengikuti pelatihan, mereka rela berdatangan satu jam sebelum acara dimulai, bahkan ada peserta yang datang lebih pagi dari panitia (mahasiswa) dan membukakan kunci pagar tempat pelatihan, mereka bahkan telah menyapu dan membersihkan tempat pelatihan sebelum panitia tiba!Bayangkan lagi, jika semangat mereka yang berkobar itu disiram dengan air sedingin es dengan kejadian luar biasa yang disebut dengan "pemadaman listrik"?Membayangkannya pun saya tak sanggup...Mari lihat dokumentasi antusiasme dan senyum mereka...
| Antusiasme peserta BGK, bayangkan saja kalau listrik padam? |
| Senyum peserta setelah menyelesaikan pelatihan selama dua bulan |
Begitulah rekan-rekan pembaca yang budiman. Ternyata dalam rentang waktu dua bulan pelaksanaan acara BGK, tidak satu detik pun terjadi pemadaman listrik. Kegiatan berjalan lancar, materi disampaikan secara interaktif menggunakan proyektor. Para peserta berhasil praktik menggunakan notebook yang disediakan tanpa kekurangan daya. Ditambah lagi sejuknya ruangan TPA yang kami gunakan akibat hembusan sebuah kipas angin kecil. Subhanallah, dalam kondisi seperti itu kembali terngiang satu ayat surah Ar-Rahman di dalam Al-Qur'an, "..maka nikmat Kami yang manakah yang kamu dustakan?.."
Semenjak itu, saya mulai mengoreksi diri. Saya tidak lagi langsung memberikan "stempel" negatif pada PLN. Saya mulai menerima, bahwa PLN sudah mulai berbenah. Pemadaman listrik sudah jarang terjadi, jikalau pun terjadi, telah ada pemberitahuan di surat kabar lokal mengenai waktu dan lamanya pemadaman. Jika tidak ada pemberitahuan sebelumnya, biasanya terjadi pemadaman akibat gangguan pada gardu yang diakibatkan cuaca ekstrem yang terjadi. Semuanya pasti telah dikoordinir, PLN pasti ingin memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia, sama seperti kami yang tidak ingin mengecewakan jagoan kecil BGK kami di kala itu. Ya, kami paham. Saya paham. Terima kasih PLN...
Namun, perjuangan itu belum berakhir. Masih banyak pembaruan yang harus PLN lakukan. Saya sangat mendukung usaha PLN dalam komitmennya untuk menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat. Ada harapan besar yang ingin saya utarakan kepada PLN, saya harap PLN...
- Mampu berkontribusi dalam mencerdaskan seluruh masyarakat Indonesia dengan berusaha maksimal memenuhi aliran listrik ke pelosok negeri, ke kampung-kampung, sehingga semua masyarakat di Indonesia terutama anak-anak usia dini dapat merasakan pendidikan dalam sinar harapan, bukan dalam kekelaman yang suram.
- Mendukung dan berkontribusi dalam proyek penemuan sumber daya alternatif, yang tentunya teknologinya dapat dimanfaatkan dan diimplementasikan olen PLN. Saya sangat berharap PLN dapat tetap konsisten dalam mendukung pengembangan teknologi listrik tenaga surya dan pemanfaatan teknologi tersebut pada kendaraan bermotor.
- Tidak segan-segan memberikan penyuluhan dan sosialisasi sebagai ajang pendekatan kepada masyarakat. Hal ini dapat membantu mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan masyarakat yang belum paham, diantaranya menunggak membayar tagihan listrik, mencuri daya listrik, dll. Kegiatan sosialisasi hendaknya dijadikan kegiatan rutin, terutama di daerah-daerah pelosok negeri, yang masyarakatnya masih berpendidikan rendah.
Selamat berbenah dan terus berbenah!
