Hari Selasa, 22 Juli 2014 akan menjadi hari bersejarah bagi rakyat Indonesia. Pengumuman hasil real count pemilihan presiden Indonesia akan diumumkan keseluruh pelosok negeri. Presiden terpilih, yang diagungkan "sebagian" pemilih Indonesia sekaligus ditolak "hampir sebagian" pemilih, mau tidak mau akan "dijatuhi" amanah memimpin bangsa ini. Dipuja oleh pendukungnya, dicaci oleh pembencinya.
![]() |
| Capres dan Cawapres peserta pemilu 2014 (sumber gambar :bandung.bisnis.com) |
Malam ini, 21 Juli 2014, tidak sampai 24 jam lagi, hasil real count akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Saya kira, situasi persaingan akan mulai mereda, namun yang terjadi malah sebaliknya. Apapun yang dilakukan oleh para politisi, mulai dari isu penundaan pengumuman hasil real count hingga isu untuk melaporkan KPU ke Bareskrim POLRI kian santer terdengar di media. Hal ini tentu bukan menjadi perhatian utama saya. Pusat perhatian saya adalah, fenomena "loyalitas" para simpatisan pendukung para capres di Indonesia. Iya, betul sekali, reaksi para "akar rumput" ini, yang menjadi perhatian utama karena sedikit "gesekan" di bawah sini, dapat menimbulkan hal yang fatal.
Para simpatisan, tidak segan-segan menyanjung para capres idolanya melebihi orang tua kandung sendiri. Mereka seperti akan sangat "terluka" jika capres mereka dihujat oleh simpatisan lawan. Posting kumpulan opini dan hujatan para simpatisan, memenuhi setiap halaman media sosial yang saya ikuti dua bulan terakhir. Memang tak sedikit simpatisan yang cerdas, dan memilih beragumen dengan bukti dan fakta, namun tetap saja, keberpihakan pada salah satu capres, masih terasa sangat kental.
Kekhawatiran timbul, saat muncul broadcast message yang berisi akan terjadi "Hari Berdarah" pada esok hari tanggal 22 Juli 2014. Akan ada demo besar-besaran untuk menolak hasil real count KPU, kerusuhan akan berpusat di ibukota. Naudzubillah min dzalik! Jauhkanlah malapetaka dari negeri ini!
Melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan, para saudara muslim di Indonesia, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi situasi seperti ini? Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 9 :
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَArtinya :"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah-satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adil-lah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." – (QS.49:9)
Sudah sangat jelas, firman Allah SWT di atas, bahwa sikap kita sebagai seorang muslim adalah "DAMAI" dan "BERLAKU ADIL atau NETRAL". Di saat dua kubu bertikai, hendaknya kita tidak memihak kepada salah satu dari mereka. Cukuplah kita perang argumentasi, atau mungkin ada yang perang otot atau bahkan perang saudara di saat menjelang pemilu hingga pemilu tiba, namun sekarang pemilu telah usai, mau tidak mau kita harus "TERIMA" hasil yang akan ditetapkan oleh KPU besok. Menang atau kalah capres idola kita, tetaplah kita yakin bahwa Allah SWT. yang telah menetapkan "beliau" sang presiden terpilih menjadi pemimpin Indonesia. Tetaplah menjadi "agen muslim" yang baik, awasi prosesnya, kritisi jika terdapat kecurangan namun jangan pernah melakukan tindakan-tindakan anarkis mengatasnamakan SARA ataupun hal-hal tercela lainnya. Tidak cukupkah firman Allah SWT. di atas bagimu? DAMAI dan BERLAKU ADIL-LAH...
Akhir kata, sebagai muslim yang baik, mari luruskan niat hanya karena Allah SWT, dukung siapapun presiden terpilih nanti, dan selalu berdo'a yang terbaik untuk Indonesia!

