Bismillah, hari ini postingannya lagi-lagi mengenai kisah hidup empunya blog :), ditulis sebagai kenangan hidup sekaligus pembelajaran, yang mau baca silakan, gak mau juga diucapkan makasih karena udah nyasar ke blog ini ^_^
Kisah ini dimulai ketika saya harus pulang sendiri dari kampus UNSRI tercinta, perjalanan UNSRI Indralaya- Palembang (rumahku) biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam, maklum rumah saya memang agak jauh dari tengah kota. Hari itu cuaca sangat sejuk, subhanallah nikmat Allah yang dilimpahkan pada hamba-Nya saat itu. Kebetulan penulis harus pulang sendiri, dikarenakan "teman pulang" lagi ada kerjaan di kampus. Karena sendiri, jadi saya putuskan untuk pulang menggunakan jalur yang tak biasa, yaitu jalur bus PS (biasanya saya klo bareng teman-teman pulang dari arah Kertapati). Pemilihan jalur ini dikarenakan saya yakin (seyakin-yakinnya) bahwa bus yang saya tumpangi pasti akan tiba di palembang saat Azan Dzuhur telah berkumandang, klo saya lewat jalur biasa (kertapati) untuk sholat perjalanannya agak ribet, sebagai info, bus kertapati tidak diperbolehkan menyebrang ke arah kota melalui Jembatan AMPERA (klo mau nyeberang dari sungai,kyaknya gak masalah :P ), sedangkan keberadaan masjid yang "layak pakai" kebanyakan di seberang jembatan ampera ("layak pakai" diartikan bukan pada kemewahan Masjid, tapi dari segi kebersihan masjid menurut saya, terutama kebersihan tempat wudhu), nah berbeda ceritanya kalau saya lewat PS, bus PS menyebrang melalui jembatan MUSI 2, dan bus melintasi mesjid yang sangat layak pakai (namanya lupa,tp mesjid yg berada di depan RS. Siti Khadijah itu loh.. ^^), jadil itulah alasan mengapa saya lebih suka kalau pulang lewat jalur PS.
Ketika selesai melaksanakan shalat zuhur, saya biasanya menunggu angkot arah TL.Betutu untuk pulang ke rumah. Dari kejauhan saya lihat ada angkot yang berada pada jalur saya berdiri, tapi angkot tersebut sepertinya lagi menunggu penumpang lain (alias NGETEM ) padahal disana gak ada penumpangnya yg lagi ngincer angkot! Saya mencoba menarik perhatian dengan melambaikan tangan saya ke arah angkot tersebut. Tapi angkot yg saya harapkan menghampiri saya tetap tidak bergerak (saya mengharapkan naik ke angkot itu, karena saya lihat ada beberapa penumpang yang telah naik pada angkot tersebut), saya tetap tidak berputus asa, pada usaha kedua saya kembali melambaikan tangan (dengan agak berlebihan), tapi si angkot harapan gak kunjung bergerak (naudzubillah min dzalik..sabar jeng..). Saya pun pasrah, sekitar 6 menit saya menunggu angkot harapan bergerak, tapi hasilnya nihil. Tiba-tiba dari belakang si angkot harapan, saya lihat ada angkot kedua yang melaju kencang, dengan tersigap saya lihat angkot pertama mencoba melaju, tapi angkot kedua berhasil duluan mencapai ke tempat saya menunggu, sebenarnya saya ragu untuk menaiki angkot kedua tersebut, karena tidak ada penumpang satupun di dalamnya, saya takut si sopir nanti kelamaan ngetem seperti sopir angkot pertama. Namun, mungkin karena sifat saya yang tidak mau mengecewakan seseorang, saya pun membuka pintu angkot dan duduk sendiri di bagian tengah.
Kecemasan saya ternyata tidak terbukti, sopir angkot kedua ini ternyata tidak sama dengan sopir angkot pertama yang "hobi" ngetem, di sela-sela perjalanan saya melihat ke arah belakang, sopir angkot pertama tertinggal jauh karena selalu berhenti pada suatu tempat, meski tidak ada penumpang di sana. Sedangkan sopir angkot yang saya tumpangi terus melaju kencang, dan berhenti ketika dia melihat penumpang saja. Alhasil, saya sangat terkesan dengan cara sopir ini dalam mengejar rizki Allah, dalam waktu kurang dari 10 menit angkot yang dibawanya terisi penuh (hingga kursi cadangan yg menghadap ke belakang juga terisi), berbeda dengan sopir pertama yang saya lihat masih melaju lambat di belakang dan berhenti setiap saat untuk ngetem. Saat angkot terisi penuh, angkot yg saya naiki ini tidak pernah berhenti hingga ada penumpang yang ingin turun. Saya sempat melihat ekpresi terkesiap rekan-rekan sopir angkot ini ketika dia melewati tempat angkot ngetem (Pasar Palimo), melihatnya saya hanya bisa tersenyum puas.Subhanallah.
Dari pengalaman di atas, saya mencoba memetik beberapa pelajaran.
- Sesungguhnya Allah SWT telah mengatur Rizki pada setiap hambaNya, namun untuk mendapatkan rizki tersebut manusia harus berusaha, bukan hanya menunggu kedatangannya!
- Pengalaman di atas juga saya jadikan motivasi dalam mengejar ilmu, untuk mendapatkan ilmu akan banyak hambatan yang kita lalui, namun hanya orang-orang yang mampu meninggalkan kenyamanan yang dimilikinya dan melakukan suatu tantangan baru, akan mendapatkan arti ilmu sesungguhnya.
- dan terakhir saya juga yakin teman-teman pasti setuju, bahwa hikmah dari pengalaman saya di atas adalah "siapa cepat, dia dapat :)" , so stop waiting and achieve your success!!
luar biasa fanyy ceritanya ^^
ReplyDelete@redha ya ^^,makasih re....
ReplyDelete